Sukanto Tanoto Mendorong Indonesia Menjadi Pemimpin Industri Kehutanan Dunia

Pengusaha Sukanto Tanoto memiliki pemikiran yang menarik. Karena potensi kehutanan sedemikian besar, pendiri grup Royal Golden Eagle (RGE) itu meyakini Indonesia seharusnya mampu menjadi pemimpin industri kehutanan di dunia. Namun, hal itu dinilainya hanya dapat diraih kalau ada pengelolaan hutan yang baik.

Sukanto Tanoto tidak asal membuat perkiraan. Ia memang mengetahui Indonesia memiliki sejumlah faktor yang membuatnya mampu menjadi pemimpin industri kehutanan di dunia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan wilayah hutan terluas di dunia.

Hal ini merupakan potensi terpendam. Terdapat sumber daya yang dapat dimanfaatkan sehingga negeri kita mampu menjadi pemimpin industri kehutanan. Namun, pemanfaatannya tentu saja harus bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Faktor kedua yang seharusnya mampu menjadikan Indonesia sebagai pemimpin industri kehutanan adalah lokasi. Keberadaan negeri kita di kawasan tropis menjadi keuntungan tersendiri dalam persaingan industri.

Dilintasi garis khatulistiwa, sinar matahari dapat dinikmati sepanjang tahun dapat dinikmati di Indonesia. Ini membuat pohon mampu tumbuh terus-menerus di negeri. Kondisi ini tidak sama dengan wilayah lain seperti di daerah yang memiliki empat musim. Masa pertumbuhan pohon di sana cuma terbatas beberapa bulan.

Sukanto Tanoto menyatakan pohon hutan tanaman industri di Indonesia bisa dipanen dalam lima hingga sepuluh tahun. Kelebihan ini tidak dimiliki oleh semua negara sehingga merupakan peluang besar bagi industri kehutanan di dalam negeri.

“Adapun industri kehutanan di luar negeri perlu waktu puluhan tahun untuk bisa dipanen,” ucap pria Chairman RGE tersebut.

Akan tetapi, menurut Sukanto Tanoto, dua kelebihan Indonesia tersebut bisa sia-sia. Ia memandang kunci untuk menjadikan Indonesia sebagai pemimpin industri kehutanan adalah pengelolaan hutan yang baik. Sebab, ada banyak kepentingan yang dipertaruhkan dalam pemanfaatan hutan.

Pandangan Sukanto Tanoto (link kw http://www.aprilasia.com/en/sukanto-tanoto) beralasan. Hutan memang punya beragam fungsi. Hutan bisa berfungsi sebagai sarana membuka lapangan kerja dan pendorong ekonomi, namun di lain sisi merupakan penyangga kehidupan manusia. Lihat, hutan berperan sebagai wilayah resapan air, penghasil oksigen, serta penyeimbang iklim.

“Kalau semua ditekankan pada lingkungan hidup, kita tidak akan berkembang. Tetapi kalau semua dibabat habis, lingkungan akan rusak. Jadi harus ada keseimbangan,” ujar Sukanto Tanoto.

Pengelolaan hutan yang baik tidak akan bisa terjadi tanpa ada pemahaman ilmu kehutanan yang baik. Kembangkan ilmu kehutanan, maka potensi hutan dapat dimaksimalkan namun kelestariannya tetap bisa terjaga.

MENDORONG ILMU DAN RISET KEHUTANAN INDONESIA

Image Source: Tanoto Foundation

Akan tetapi, sains dan riset di Indonesia kurang berkembang. Gairah pengembangan ilmu melalui beragam penelitian masih sangat rendah.

Kondisi ini dipaparkan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. Menurutnya, sampai Februari 2016, hanya ada 4.500 hingga 5.000 penelitian yang dipublikasikan di Indonesia. Jumlah ini jelas sangat rendah. Apalagi kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa.

Padahal, tingkat kemajuan sebuah bangsa akan berbanding lurus dengan jumlah riset yang dilakukan. Ketika penelitian semakin banyak, hampir dipastikan negara itu bertambah maju.

Industri kehutanan juga tak lepas dari tantangan jumlah riset yang minim. Ini otomatis membuat perkembangan ilmu kehutanan di Indonesia sangat lambat. Situasi itu sudah seharusnya diubah dengan cepat jika ingin mengembangkan industrinya dengan baik.

Atas dasar ini, melalui Tanoto Foundation yang didirikannya, Sukanto Tanoto, berinisiatif mendorong perkembangan ilmu kehutanan di Indonesia. Caranya ialah mendirikan Tanoto Forestry Information Center (TFIC) di kawasan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB).

Didirikan pada 2013, TFIC diharapkan oleh Sukanto Tanoto mampu menjadi wadah pengembangan ilmu kehutanan di Indonesia. Panel, video, dan jurnal kehutanan yang ada di dalamnya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan ilmuwan kehutanan yang andal. Pasalnya, keberadaan ilmuwan akan berkorelasi terhadap pengelolaan hutan yang baik.

“Pada akhirnya, berbagai aktivitas dalam lembaga ini sebagai jalan bagi lahirnya ilmuwan dan praktisi kehutanan yang unggul di tingkat internasional,” ujar Sukanto Tanoto.

Sukanto Tanoto merasa terpanggil untuk mendirikan TFIC karena tahu persis kekayaan hutan Indonesia. Sebagai pebisnis sumber daya alam, ia mengetahui potensi kehutanan di negeri kita. Oleh karena itu, ia ingin membantu pemerintah dalam mengembangkan industri kehutanan dalam negeri.

“Swasta, terutama korporat punya tanggung jawab untuk ikut memajukan dunia ilmu pengetahuan di Indonesia. Apalagi Indonesia kaya akan sumber daya alam. Salah satunya hutan,” ucap Sukanto Tanoto.

IPB menjadi perguruan tinggi pertama yang didukung oleh Tanoto Foundation untuk mengembangkan ilmu kehutanan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena kapasitas IPB dalam bidang kehutanan sudah terbukti.

Meski begitu, bukan berarti tidak akan ada pihak lain yang akan mendapatkan dukungan serupa. Sukanto Tanoto menegaskan bahwa pihaknya berencana akan mengandeng perguruan tinggi lain untuk merawat hutan di Indonesia.

“Tidak hanya dengan IPB, kami akan menggandeng perguruan tinggi lainnya. Oleh sebab itu, kami berharap IPB bekerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian bidang kehutanan lain untuk dapat mengembangkan pusat informasi yang dapat mendukung riset dan pengembangan ilmu kehutanan,” papar Sukanto Tanoto.

Langkah ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Indonesia. Menristekdikti M. Nasir mengatakan keberadaan TFIC bisa menjadi instrumen utama penelitian, analisis, dan menyusun langkah strategis yang diperlukan dalam bidang kehutanan. Ia juga berharap institusi ini mampu menjadi penghubung untuk networking dan kolaborasi antara pelaku kehutanan nasional dan internasional.

Keseriusan Sukanto Tanoto dalam mengembangan industri kehutanan tidak hanya ditunjukkan dengan mengagas TFIC. Ia juga memperlihatkannya secara nyata melalui RGE yang didirikannya.

Bersama RGE, Sukanto Tanoto menunjukkan arti penting sains. Perusahaannya itu selalu membuka diri bagi perkembangan teknologi untuk menunjang operasionalnya.

Dalam hal ini, RGE sangat mendorong kiprah tim riset dan pengembangannya. Dari mereka diharapkan muncul terobosan untuk meningkatkan produksi.

Beruntung harapan itu terlaksana. Sangat banyak terobosan yang dihasilkan oleh tim riset dan pengembangan anak-anak perusahaan RGE. Di Asian Agri mereka mampu melahirkan bibit kelapa sawit unggul yang dinamai Topaz. Sedangkan di Grup APRIL, hasil produksi perkebunan kelapa sawit terus naik berkait silvikultur yang dikembangkan tim riset dan pengembangannya.

Hasil yang diraih RGE akhirnya terlihat nyata. Mereka bisa mengembangkan potensi sumber daya Indonesia menjadi produk bernilai tinggi. Hal ini yang diharapkan oleh Sukanto Tanoto terjadi dalam industri kehutanan di negeri kita.