Mengenal Pembibitan Akasia di RGE

Source: Liandamarta.com

Pemakaian kertas sudah jamak, namun belum semua mengetahui bahan baku pembuatannya. Ternyata kertas dibuat dari pohon akasia. Salah satu produsennya adalah Royal Golden Eagle (RGE) yang menghasilkan beragam produk pulp and paper.

Royal Golden Eagle pertama kali berdiri pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas. Mereka merupakan korporasi yang menjadikan pemanfaatan sumber daya alam sebagai basis bisnisnya. Selain berkecimpung dalam industri pulp and paper, RGE juga terjun dalam bidang kelapa sawit, selulosa spesial, viscose fibre, hingga pengembangan energi.

Kini RGE telah beroperasi atau memiliki anak perusahaan di berbagai negara asing seperti Malaysia, Filipina, Tiongkok, Singapura, Brasil, Kanada, hingga Finlandia. Mereka pun mempekerjakan sekitar 50 ribu orang karyawan.

Grup ini menaungi beberapa anak perusahaan. Salah satunya ialah APRIL Group yang berkecimpung dalam industri pulp and paper. Sementara itu, APRIL memiliki unit bisnis bernama PT Riau Andalan Pulp & Paper. Berbasis di Pangkalan Kerinci di Provinsi Riau, PT RAPP memiliki pusat produksi modern yang dilengkapi dengan pabrik serta hutan tanaman industri terbarukan.

Sebagai bahan baku pulp dan kertas yang diproduksi, PT RAPP menggunakan pohon akasia. Jenis pohon ini dipilih bukan tanpa alasan. Kayu dari pohon akasia sangat bagus untuk pembuatan kertas. Seratnya cocok untuk memproduksi beragam jenis kertas mulai dari kertas kantor, kertas tulis, hingga kertas kemasan.

Selain faktor kecocokan untuk produksi, pohon akasia ternyata begitu pas untuk ditanam di Indonesia. Berada di kawasan beriklim tropis, akasia cepat tumbuh besar. Mereka memiliki siklus panen yang pendek sehingga korporasi seperti Royal Golden Eagle tertarik untuk memakainya.

Bayangkan saja, di tanah yang hangat seperti Indonesia, pohon akasia sudah dapat dipanen dalam lima atau enam tahun. Padahal, di kawasan dengan empat musim seperti di Benua Eropa, menumbuhkan pohon akasia sampai siap panen butuh waktu 25 tahun.

Bukan hanya itu, pohon akasia ternyata memiliki beragam manfaat lain yang semakin menarik. Pohon akasia mampu memperbaiki struktur tanah dan mencegah banjir atau tanah longsor. Akibatnya pohon ini sangat bagus untuk ditanam di daerah berbukit maupun di pegunungan. Meski begitu, akasia juga tidak sulit untuk ditumbuhkan di daerah dataran rendah.

PT RAPP menumbuhkan pohon akasia di hutan tanaman industri yang dimilikinya. Perkebunan yang dikelola dengan praktik berkelanjutan ini diperlukan untuk memastikan suplai bahan baku pembuatan kertas dan pulp terus terjaga.

Di balik penanaman pohon akasia ada proses yang tak kalah rumit. Untuk menanam pohon dibutuhkan bibit. Maka, PT RAPP juga melakukan pembibitan pohon akasia. Unit bisnis bagian dari Royal Golden Eagle ini memiliki nursery yang sanggup memproduksi bibit akasia sebanyak 150 juta per tahun.

Pusat pembibitan PT RAPP tersebar  di sejumlah lokasi utama, yakni Pangkalan Kerinci, Pelalawan, serta Baserah. Namun, anak perusahaan grup yang bernama awal Raja Garuda Mas ini memiliki beberapa nursery satelit di kawasan lain.

PROSES PEMBIBITAN

Source: Liandamarta.com

Untuk menghasilkan sebuah bibit pohon akasia, ada tiga proses utama yang dilalui. Pertama kali proses ada di Mother Plant House. Ini adalah tempat bibit-bibit tanaman terbaik yang dijadikan sebagai induk untuk tunas.

Meski merupakan bibit induk, ternyata pohon akasia yang dijadikan sebagai bibit tidak tinggi. “Tinggi pohon induk cuma 15 cm, karena menurut ilmu biologi semakin dekat dengan akar, maka tingkat keberhasilan pengakaran lebih baik,” jelas Afri Dharma Asisten Kepala Nursery PT RAPP Pelalawan seperti dilaporkan oleh Technology Indonesia.

Di Mother Plant House, bibit induk dirawat dengan baik. Mereka diletakkan di sejumlah blok sesuai dengan kriteria tertentu. Di sana tim nursery anak perusahaan RGE tersebut merawat dengan memberi pupuk dan air sesuai kebutuhan.

Sesudahnya masuk ke proses harvesting. Bibit-bibit yang ada di Mother Plant House dipanen. Bibit dimasukkan ke dalam ember yang berisi air. Tujuannya supaya kesegaran bibit terus terjaga.

Saat itulah bibit pohon akasia memasuki proses berikutnya. Mereka diserahkan ke tim cutting. Di sini tunas akan mengalami pemotongan.

PT RAPP memilih menggunakan teknik cutting karena dirasa mampu membuat bibit tumbuh dengan baik. Cara melakukannya adalah daun dipotong dengan gunting. Hasil pemotongan menyisakan kurang lebih sepertiga bagian dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Pemotongan miring memiliki tujuan supaya air lekas turun ke wadah atau media tanam. Jika dipotong mendatar, daun akasia bisa cepat busuk karena bekas irisan terlalu lama menampung air.

PROSES PENANAMAN

Source: Liandamarta.com

 

Setelah dipotong, bibit masuk ke proses penanaman. Namun, sebelumnya tunas dimasukkan ke wadah berisi media tanam. Adapun media tanam yang dipakai adalah cocopeat serta sekam bakar.

Dalam membuat media tanam, ada komposisi tertentu agar bibit tumbuh maksimal. Pada masa kemarau, porsi cocopeat mencapai 75 persen dan 25 persen sisanya sekam bakar. Namun, pada musim penghujan, cocopeat hanya 65 persen dan sekam bakar mencapai 35 persen.

Sesudah masuk ke dalam wadah, bibit akasia tidak langsung ditanam di perkebunan. Perlu ada perawatan terlebuh dulu. Bibit disiram dengan kabut air untuk menjaga kelembapannya. Hal itu dilakukan selama empat minggu pada masa penumbuhan akar. Proses pengkabutan dilakukan setiap lima menit sekali dengan durasi 30 menit.

Ketika akar mulai tumbuh dan daun baru mulai muncul, durasi pengkabutan air pelan-pelan dikurangi. Proses penyiraman menjadi delapan hingga sepuluh menit dengan sekali siram per lima menit. “Durasi proses penyiraman tergantung cuaca, ketika mendung durasi penyiraman kita kurangi,” terang Afri.

Bibit kemudin terus dirawat. Ketika memasuki masa lima hingga enam minggu, bibit-bibit kemudian dipilah sesuai ukuran tertentu. Bibit yang tidak sesuai standar disingkirkan. Sedangkan yang dirasa bagus terus dirawat.

Baru ketika bibit sudah berusia sembilan hingga sepuluh minggu akan siap ditanam. “Setiap tahun pusat pembibitan di Pangkalan Kerinci seluas 18 hektare ini mampu menghasilkan 50 juta bibit. Sedangkan di Baserah 50 juta bibit dan di Pelalawan 40 juta bibit. Jadi dari nursery pusat saja sudah menghasilkan 140 juta bibit per tahun. Untuk area yang jauh, kita membangun satellite nursery,” ujar Afri.

Perlu waktu antara lima hingga enam tahun sebelum akasia bisa panen. Hal itu ditandai dengan tinggi pohon sudah mencapai sekitar lima meter dengan batang pohon berdiameter 25 cm.

Sembari menunggu pohon dapat dipanen, proses pembibitan tetap dilakukan. Tak heran peran nursery tidak bisa disepelekan. Posisinya begitu vital dalam rantai produksi PT RAPP.

Nursery merupakan langkah pertama dalam industri pemanfaatan sumber daya alam berupa hutan tanaman industri. Bisnis pulp dan kertas akan tergantung dari hasil kerja nursery pada saat ini,” ujar Deputy Head of Kerinci Central Nursery PT RAPP, Tim Funton.

Dari bibit yang dihasilkan oleh nursery akan hadir pohon akasia yang menjadi bahan baku pulp and paper. Selanjutnya, dengan keahlian khusus, Royal Golden Eagle sanggup menyulapnya menjadi berbagai produk yang bermanfaat bagi kita semua.